Follow by Email

Sabtu, 21 Januari 2012

Faktor yang mempengaruhi Prestasi



BAB I
PENDAHULUAN
      1.    Latar Belakang
Prestasi belajar merupakan gambaran keberhasilan murid dalam belajar, faktor yang berpengaruh terhadap prestasi belajar adalah gangguan kesehatan yang secara langsung dapat mempengaruhi proses belajar dan hasil belajar misalnya penyakit infeksi yang biasanya dapat menurunkan daya tahan tubuh dan menimbulkan rasa sakit dan rasa kurang nyaman sehingga dapat mengganggu proses belajar. Pada masa anak usia sekolah membutuhkan masukkan energi dan protein yang lebih besar. Zat gizi pada usia ini sangat dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak, karena masih menjalani taraf perkembangan keterampilan dan proses intelektual.
Selama ini identifikasi faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap lulus tidaknya seorang siswa masuk kelas akselerasi adalah menggunakan pendekatan terhadap item-item yang digunakan sebagai panduan untuk tes psikologi. Item-item tersebut adalah kecerdasan, kreativitas, komitmen dan kepribadian. Basti (2006) mengatakan bahwa kecerdasan, kreativitas, komitmen dan kepribadian dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berkaitan dengan intelegensi, perhatian, minat, bakat, kematangan dan kesiapan, sedangkan faktor eksternal berkaitan dengan faktor sekolah, orang tua dan masyarakat.
Faktor-faktor tersebut sama dengan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar seorang siswa. Akbar (2004), mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah kecerdasan, bakat, minat, motivasi, keadaan keluarga, keadaan sekolah dan keadaan lingkungan masyarakat. Berdasarkan pendapat tersebut diatas maka dalam memodelkan kelas akselerasi digunakan pendekatan faktor-faktor yang diduga mempengaruhi prestasi belajar.
Beberapa penelitian sebelumnya mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa diantaranya Nugroho (2000) yang meneliti tentang faktor-faktor yang berpengaruh pada prestasi siswa sekolah dasar (SD). Variabel yang dilihat meliputi jenis kelamin, status orang tua siswa, urutan kelahiran, hadiah, mengikuti les, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, lama belajar siswa di rumah, frekuensi ke perpustakaan, minat pada mata pelajaran dan kualitas belajar mengajar untuk melihat apakah berpengaruh terhadap prestasi akademik siswa. Hasil yang diperoleh adalah variabel yang signifikan berpengaruh terhadap prestasi akademik siswa adalah jenis kelamin, pekerjaan ibu, dan kualitas belajar mengajar.
      2.    Tujuan Penulisan
Mendeskripsikan tentang faktor – faktor yang mempengaruhi prestasi anak usia sekolah dasar.
      3.    Manfaat Penulisan
1.    Bagi Dosen
Bisa dijadikan sebagai acuan dalam mengajar peserta didiknya
2.    Bagi Mahasiswa
Bisa dijadikan sebagai bahan kajian belajar
Bisa dipraktekkan pada peserta didiknya pada saat mengajar.



BAB II
PEMBAHASAN
  1. Prestasi Belajar
1.    Pengertian Prestasi Belajar
Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan dalam proses prestasi. Untuk mengetahui berhasil atau tidaknya seseorang dalam belajar maka diperlukannya evaluasi yang diperlukan untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar berlangsung.
Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar ,merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Sehubungan dengan proses belajar kamus besar Psikologi Chaplin mendefinisikan prestasi (achivement) sebagai ” Suatu tuingkat khusus perolehan atau hasil keahlian dalam tingkat akademis yang dinilai guru-guru, lewat tes-tes yang dibakukan atau lewat kombinasi kedua hal tersebut”.(1995:5).
Menurut Yayah Sunarso (1999:80), prestasi belajar merupakan kecakapan nyata yang seseorang yang dapat dilihat dari tingkat penguasaan berbagai materi pelajaran di sekolah. Prestasi belajar ini merupakan hasil belajar yang dapat berwujud pengetahuan, sikap-sikap dan keterampilan. Di sekolah, wujud prestasi belajar dinyatakan dalam bentuk angka di raport.
Selanjutnya Winkel (1996:162) menyatakan bahwa “prestasi belajar adalah bukti suatu keberhasilan belajar atau kemampuan siswa dalam kemampuan belajar sesuai dengan bobot yang dicapainya“. Sedangkan menurut  S.Nasution (1996:17) Prestasai belajar “adalah kesempurna yang dicapai sesorang dalam berfikir, mersa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan semourna apabila memenuhi tiga aspek : Kognitif, afektif, psikomotorik, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan apabila sesorang belum mampu mencapai target kriteria tersebut”. Dari paparan diatas prestasi dalam belajara dalam hal ini mengacu pada presatasi belajar winkel (1996). Prestasi belajar merupakan tingkat keberhasilan seseorang dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai, setiap bidang studi dalam mengalami proses belajar mengajar. Prestasi belajar siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil evaluasi dapat memperlihatkan tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa.

2.    Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar      
Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar sangat bermacam-macam. Namun secara garis besar faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan  menjadi 2 golongan, Yaitu :
·         Faktor yang terdapat dari dalam diri siswa (faktor internal)
·         Faktor yang terdapat dari luar diri siswa (faktor eksternal)

Faktor Internal
            Faktor internal adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri, adapun yang dapat digolongkan kedalam faktor internal tersebut adalah : kecerdasan, bakat, minat dan motivasi.
  • Kecerdasan/Intelegensi
Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadan yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegansi yang normal selalu menujukan kecakapan sesuai dengan tingkat kemampuan sebaya. Adakalanya kemampuan ini ditandai oleh kemampuan-kemampuan yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lainya sehingga seorang anak pada usia tertentu sudah memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan teman sebayanya. Oleh karena itu jelas faktor intelegensi merupakan suatu hal yang tidak dapat diabaikan dalam kegiatan belajar mengajar.
            Menurut Kartono (1995:1) Kecerdasan merupakan “ Salah satu aspek yang penting dan sangat menentukan berhasil atau tidaknya study seseorang. Kalau seorang siswa mempunyai kecerdasan normal atau diatas normal maka dalam potensial ia dapat berprestasi tinggi”.
Slameto (1995:56) Mengatakan bahwa “ Tingkat intelrgansi yang tinggi akan lebih berhasil dari pada yang memiliki intelegansi yang rendah”.

Sedangkan Muhibbin (1999:35) Berpendapat bahwa “intelegansi adalah semakin tingi intelegansi seseorang maka semakin besar peluang keberhasilan seseorang untuk meraih sukses. Sebaliknya semakin rendah intelegensi seseorang maka semakin rendah peluang untuk meraih sukses”. Dari pendapat diatas jelas bahwa intelegensi yang baik atau kecerdasan yang tinggi merupakan faktor yang penting bagi seorang anak dalam usaha belajar.
  • Bakat
Bakat adalah Kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang sebagai kecakapan bawaan. Seperti yang diucapkan oleh Ngalim Purwanto (1986:28) bahwa “bakat dalam hal ini sangat dekat dengan pengertiannya aptitude yang berarti kecakapan, yaitu mengenai kesanggupan-kesanggupan tertentu”.
Kartono(1995:2) menyatakan bahwa “bakat adalaha potensi atau kemampuan kalau diberikan kesempatan untuk dikembangkan melalui belajar akan menjadi kecakapan yang nyata”.
Menurut Syah Muhibbin (1999:136) mengatakat “bakat diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tanpa banyak bergantung pada upaya pendidkan dan latihan”.
Dari pendapat diatas jelas bahwa tumbuhnya keahlian tertentu pada seseorang sangat ditentukan oleh bakat yang dimilikinya, sehubungan dengan bakat ini dapat mempunyai tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang study tertentu. Dalam proses belajar terutama belajar keterampilan, bakat memegang peranan penting dalam mencapai suatu hasil akan prestasi yang baik.
  • Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan mengenai beberapa kegiatan. Menurut Winkel (1996:24) minat adalah “kecenderungan yang menetap dalam subjek untu merasa tertarik pada bidang atau hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu”. Selanjutnya Slameto (1995:57) Mengemukakan bahwa minat adalah “kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan, kegiatan yang diminati seseorang diperhatikan terus yang disertai dengan rasa sayang”. Adirman (1992:76) mengemukakan minat adalah “suatu kondisi yang terjadi apabila sesorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhannya sendiri.”
Menurut pendapat diatas sangatlah jelas bahwa minat besar pengaruhnya terhadap belajar atau kegiatan. Bahkan pelajaran yang menarik minat siswa lebih mudah dipelajari dan disimpan karena minat menambah kegiatan belajar. Minat belajar yang dimiliki siswa merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya.
  • Motivasi
Motivasi dalam belajar adalah faktor yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa untuk belajar. Nasution (1995:73) mengatakan motivasi adalah “segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu”. Sedangkan menurut Sardiman (1992:77) mengatakan  “motivasi adalah menggerakkan siswa untuk melakukan suatu atau ingin melakukan sesuatu”.
Motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam motivasi yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi Intrinsik dimaksudkan dengan motivasi yang bersumber dari dalam diri seseorang yang atas dasarnya kesadaran sendiri untuk melakukan sesuatu pekerjaan belajar. Sedangkan motivasi ekstrinsik dimaksudkan dengan motivasi yang datangnya dari luar diri seseorang yang menyebabkan siswa melakukan kegiatan belajar.
Seorang guru dalam memberikan motivasi harus berusaha dengan segala kemampuan yang ada untuk mengarahkan perhatian siswa kepada sasaran tertentu. Dengan motivasi diharapkan timbul dorongan inisiatif dalam diri siswa dengan alasan mengapa ia menekuni pelajaran.
  • Kematangan 
Kematangan adalah suatu tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan. Misalnya anak dengan kakinya sudah siap untuk berjalan, tangan dengan jari-jarinya sudah siap untuk menulis, dengan otaknya sudah siap untuk berpikir abstrak dan lain-lain. belajar akan berhasil jika anak sudah memiliki kematangan. Namun, anak yang telah matang belum dapat melaksanakan kecapanannya sebelum belajar. Jadi, kemajuan baru untuk memilki kecakapan tergantung dari kematangan dan belajar.
Faktor Eksternal
Menurut Slameto (1995:60) faktor eksternal yang dapat mempengaruhi belajar adalah “ keadaan keluarga, keadaan sekolah dan lingkungan masyarakat”.
  1. Keadaan Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan. Menurut Slameto keluarga adalah “ lembaga pendidikan pertama dan utama. Keluarga yang sehat besar artinya untuk pendidikan kecil, tetapi bersifat menentukan dalam ukuran besar, yaitu pendidikan bangsa, Negara, dan dunia”. Adanya rasa aman dalam keluarga sangat penting dalam keberhasilan seseorang. Karena rasa aman merupakan salah satu kekuatan pendorong dari luar yang menambah motivasi untuk belajar.
Dalam hal ini Hasbullah (1994: 44) mengatakan “ keluarga merupakan lingkungan pendididkan pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan pendidikan dan bimbingan, sedangtkan tugas utama dalam keluarga bagi pendidikan anak ialah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup beragama”.
 Oleh karena itu pendidikan dimulai dari keluarga, sedangka sekolah merupakan pendidikan lanjutan. Peralihan pendidikan informal ke lembaga-lembaga formal memerlukan kerja sama yang baik antara orangtua dan guru sebagai pendidik dalam usaha meningkatkan hasil belajar anak. karena anak memerlukan waktu, tempat dan keadaan yang baik untuk belajar.
b.            Keadaan Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan pertama yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa, karena itu lingkungan sekolah yang baik dapat mendorong untuk belajar yang lebih giat. Keadaan sekolah ini meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru dengan siswa, alat-alat pelajaran dan kurikulum. Hubungan antara siswa dan siswa kurang baik akan memepengaruhi hasil-hasil belajarnya.
Seperti yang dikemukakan oleh Kartono (1995: 6) “guru dituntut untuk menguasai bahan pelajaran yang akan diajarkan, dan memiliki tingkah laku yang tepat dalam mengajar”. Oleh sebab itu, guru harus dituntut untuk menguasai bahan pelajaran yang disajikan dan memilki metode yang tepat dalam mengajar.
c.            Lingkungan Masyarakat
Lingkungan alam sekitar sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi anak, sebab dalam kehidupan sehari-hari anak akan lebih banyak bergaul dengan lingkungan dimana anak itu berada.
Kartono (1995:5) berpendapat : Lingkungan masyarakat dapat menimbulkan kesukaran belajar anak, terutama anak-anak yang sebayanya. Apabila anak-anak yang sebaya merupakan anak-anak yang rajin belajar, maka anak akan terangsang untuk mengikuti jejak mereka. Sebaliknya bila anak anak-anak nakal yang berkeliaran tiada menentukan anak pun dapat berpengaruh pula.
Lingkungan membentuk kepribadian anak, karena dalam pergaulan sehari-hari seorang anak akan menyesuaikan dirinya dengan kebiasaan-kebiasaan lingkungannya.
Prestasi belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan umum kita yang diukur oleh IQ, IQ yang tinggi meramalkan sukses terhadap prestasi belajar. Namun IQ yang tinggi ternyata tidak menjamin sukses di masyarakat
Dalam rangka Seminar Sehari tentang Faktor-faktor yang mempengaruhi Prestasi Belajar Anak dan Kurikulum Berbasis Komputensi di Sekolah Dasar
1. Pengaruh Pendidikan dan Pembelajaran Unggul
Seorang secara genetis telah lahir dengan suatu organisme yang disebut inteligensi yang bersumber dari otaknya. Struktur otak telah ditentukan secara genetis, namun berfungsinya otak tersebut menjadi kemampuan umum yang disebut inteligensi, sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungannya (Semiawan, C, 1997).Pada kala bayi lahir ia telah dimodali 100 – 200 milyar sel otak dan siap memproseskan beberapa trilyun informasi. Cara pengelolaan inteligensi sangat mempengaruhi kualitas manusianya, tetapi sayang perlakuan lingkungan dalam caranya tidak selalu menguntungkan perkembangan inteligensi yang berpangaruh terhadap kepribadian dan kualitas kehidupan manusia. Ternyata dari berbagai penelitian bahwa pada umumnya hanya kurang lebih 5% neuron otak berfungsi penuh (Clark, 1986).
Lingkungan pendidikan dan berbagai pusat pelatihan serta tempat kerja kita kini juga dipengaruhi oleh lingkungan global yang merupakan berbagai pengaruh eksternal dalam dinamika berbagai aspek kehidupan di dunia, Lingkungan global yang mengadung pengertian tereksposnya kita oleh kehidupan komunitas global menuntut adaptasi masyarakat kita pada kondisi global dan pada gilirannya menuntut adaptasi individu untuk bisa bertahan di masyarakat di mana ia hidup.
Interface antar berbagai stimulus lingkungan melalui interaksi untuk mewujudkan aktualitasasi diri individu secara optimal dalam masyarakat di mana ia hidup dan juga aktualisasi daerah pada masyarakat yang lebih luas, nasional maupun global, inilah yang harus menjadi perhatian pengelola ataupun atasan atas perlakuan subjek SDM, dalam hal kita, para guru dalam perlakuannya terhadap peserta didik. Interaksi yang terjadi dalam prilaku anak-anak kita. Namun secara reciprocal (timbal balik) perlakuan yang diterjadikan adalah cermin kehidupan masyarakat di mana ia hidup.
Menghadapi era global di masa yang akan datang, diharapkan kesadaran tentang reformasi pendidikan memenuhi kondisi masa depan yang dipersyaratkan (necessary condition to be fullfield). Kurun waktu milenium ke 3 dari proses kehidupan manusia sudah berjalan, dan abad ke-21 serta abad ke-22 ini bukan saja merupakan abad-abad baru, melainkan juga peradaban baru. Hal ini dikarenakan betapapun mengalami krisis moneter, Indonesia akan terkena juga oleh restrukturisasi global dunia yang sedang berlangsung. Restrukturisasi dunia, yang terutama ditandai oleh berbagai perubahan dalam bidang ekonomi, sosial, politik dan aspek kehidupan lain, mempengaruhi setiap insan manusia, laki, perempuan, anak di negara berkembang maupun di negara maju, tidak terkecuali negara Indonesia, dan terutama berdampak terhadap orientasi pendidikan.

2. Perkembangan dan Pengukuran Otak
Sebagaimana tadi dikatakan, maka cara penggunaan sistem kompleks dari proses pengelolaan otak ini sebenarnya sangat menentukan inteligensi maupun kepribadian dan kualitas kehidupan yang dialami seorang manusia, serta kualitas manusia itu sendiri. Untuk meningkatkan kecerdasan anak maka produksi sel neuroglial, yaitu sel khusus yang mengelilingi sel neuron yang merupakan unit dasar otak, dapat ditingkatkan melalui berbagai stimulus yang menambah aktivitas antara sel neuron (synaptic activity), dan memungkinkan akselerasi proses berfikir(Thompsn, Berger, dan Berry, 1980 dalam Clark, 1986). Dengan demikian inteligensi manusia dapat ditingkatkan, meskipun dalam batas-batas tipe inteligensinya.
Secara biokimia neuron-neuron tersebut menjadi lebih kaya dengan memungkinkan berkembangnya pola pikir kompleks. Juga banyak digunakan berkembangnya aktivitas “Prefrontal cortex” otak, sehingga terjadi perencanaan masa depan, berfikir berdasarkan pemahaman dan pengalaman intuitif, Prefrontal cortex yang terutama tumbuh pada ketika anak berumur duabelas sampai enambelas tahun mencakup juga kemampuan melihat perubahan pola ekstrapolasi kecendrungan hari ini ke masa depan; regulasi diri serta strategi “biofeedback” dan meditasi; berfikir sistem analisis;yang merupakan aspek-aspek bentuk tertinggi kreativitas serta memiliki kepekaan sosial, emosional maupun rasional (Goodman, 1978, dalam Clark, 1986). Sifat-sifat manusia ini banyak terkait dengan sifat-sifat inisiatif dan dorongan mencapai kemandirian dan keunggulan.
Otak dewasa manusia tidak lebih dari 1,5 kg, namun otak tersebut adalah pusat berfikir, perilaku serta emosi manusia mencerminkan seluruh dirinya (selfhood), kebudayaan, kejiwaan serta bahasa dan ingatannya. Descartes pusat kesadaran orang, ibarat saisnya, sedangkan badan manusia adalah kudanya. Meskipun kemudian ternyata, bahwa perilaku manusia juga dipengaruhi oleh ketidaksadarannya (freud dalam Zohar, 2000:39), kesadaran manusia yang oleh Freud disebut rasionya merupakan kemampuan umum yang mengontrol seluruh perilaku manusia. Berbagai penelitian kemudian membuktikan bahwa kemampuan rasional tersebut biasa diukur dengan IQ (Intelligence Quetient). Meskipun kini terbukti bahwa orang memiliki lebih dari satu inteligensi menurut teori Gardner ada 8 (teori Multiple Intelligence), ukuran yang disebut IQ mengukur kemampuan umum yang bersifat tunggal masih sering dipakai untuk menandai kemampuan intelektual dan prestasi belajar. Ternyata bahwa otak tersebut masih menyimpan berbagai kemungkinan lain.
“Celebral Cortex” otak dibagi dalam dua belahan otak yang disambung oleh segumpal serabut yang disebut “corpus callosum”. Belahan otak kanan menguasai belahan kiri badan, sedangkan belahan otak kiri menguasai belahan kanan badan. Respons, tugas dan fungsi belahan kiri dan kanan berbeda dalam menghayati berbagai pengalaman belajar, sebagaimana seorang mengalami realitas secara berbeda-beda dan unik. Belahan otak kiri terutama berfungsi untuk merespons terhadap hal yang sifatnya linier, logis, teratur, sedangkan yang kanan untuk mengembangkan kreativitasnya, mengamati keseluruhan secara holistik dan mengembangkan imaginasinya. Dengan demikian ada dua kemungkinan cara berfikir, yaitu cara berfikir logis, linier yang menuntut satu jawaban yang benar dan berfikir imaginatif multidimensional yang memungkinkan lebih dari satu jawaban.
3.    Kecerdasan (Inteligensi) Emosional
* Prestasi belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan umum kita yang diukur oleh IQ, IQ yang tinggi meramalkan suskse terhadap prestasi belajar. Namun IQ yang tinggi ternyata tidak menjamin sukses di masyarakat (Segal, 1997:14). Pada permulaan tahun sembilan puluhan berbagai penelitian menunjukkan (Segal, 1997:5) bahwa diinspirasi oleh berbagai psikolog humanis seperti Maslow, Rollo May, Carl Rogers yang sangat memperhatikan segi-segi subyektif (perasaan) dalam perkembangan psikolog, eksplorasi tentang emosi telah menunjuk pada sumber-sumber emosi (Segal, 1997, Goleman, 1995).
Ternyata bahwa emosi selain mengandung persaan yang dihayati seseorang, juga mengandung kemampuan mengetahui (Menyadari) tentang perasaan yang dihayati dan kemampuan bertindak terhadap perasaan itu. Bahkan pada hakekatnya emosi itu adalah impuls untuk bertindak.
Goleman menyatakan bahwa selain rational mind, seorang memiliki an emotional main yang masing-masing diukur oleh IQ dan EQ dan bersumber masing-masing dari head dan heart. kedua kehidupan mental tersebut, meskipun berfungsi dengan cara-caranya sendiri, bekerjasama secara sinergis dan harmonis.
* Homo sapiens yang memiliki neocortex(otak depan) yang merupakan sumber rasio, yaitu otak depan, terdiri dari pusat-pusat yang memahami dan mendudukan apa yang diamati oleh alat dria kita. Dalam evolusi tentang pengtahuan kemampuan organisma, ternyata bahwa penanjakan kehidupan manusia dalam peradaban dan kebudayaan adalah kerja neocortex yang ternyata juga menjadi sumber kemampuan seseorang untuk perencanaan dan strategi jangka panjang dalam mempertahankan hidup (Goleman, 1995:11).
Perkembangan ini menjadi otak memiliki nuansa terhadap kehidupan emosional seseorang. Struktur lymbic (sumsum tulang belakang) menghidupkan perasaan tentang kesenangan dan keinginan seksual, yaitu emosi yang mewujudkan sexual passion. Namun keterkaitan sistem lymbic tersebut dengan neocortex menumbuhkan hubungan dasar ibu-anak, yang menjadi landasan untuk unit keluarga dan commitment jangka panjang untuk membesarkan anak (spesi yang tidak dimiliki organisma ini seperti binatang melata, tidak memiliki kasih sayang) dan sering membunuh dan /atau menghancurkan anaknya sendiri. Masa anak dan masa belajar panjang (long childhood) bersumber dari saling keterhubungan neuron-neuron dalam ‘pabrik’ otak ini.
* Amygdala adalah neuron yang mewujudkan struktur keterhubungan di atas brainstem dekat dasar dari limbic ring(cincin sumsum tulang belakang antara emosi dan rasio). Amygdala adalah tempat penyimpanan memori emosi.
Joseph Le Doux, neoroscientist dari Center for Neural Scince New York University menemukan peran penting amygdala dalam otak emosional. Amygdala menerima input langsung melalui alat indra dan memberikan signal kepada neocortex, namun juga dapat memberikan respons sebelum tercatat di neocortex. Jadi ada kemungkinan respons manusia sebelum ia berfikir



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar ,merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Sehubungan dengan proses belajar kamus besar Psikologi Chaplin mendefinisikan prestasi (achivement) sebagai ” Suatu tuingkat khusus perolehan atau hasil keahlian dalam tingkat akademis yang dinilai guru-guru, lewat tes-tes yang dibakukan atau lewat kombinasi kedua hal tersebut”.(1995:5).
Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar sangat bermacam-macam. Namun secara garis besar faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan  menjadi 2 golongan, Yaitu :
·         Faktor yang terdapat dari dalam diri siswa (faktor internal)
·         Faktor yang terdapat dari luar diri siswa (faktor eksternal)
 


 BAB IV
DAFTAR PUSTAKA


Abdul Malik

Share it